Senin, 22 Juli 2013

Saudi Bebaskan Syaikh Al Arifi Dan Al Awaji Pagi Tadi


KIBLAT.NET, Saudi – Setelah empat hari ditahan polisi kerajaan Arab Saudi, Syaikh Muhammad Al Arifi dan Muhsin Al Awaji  pagi ini waktu Saudi (Senin, 22/7/2013), dibebaskan. Kabar pembebasan beliau disampaikan Syaikh Salman Al Audah melalui akun twitternya.

“Alhamdulillah, dua teman kami, Muhammad Al Arifi dan Muhsin Al Awaji telah dibebaskan satu jam lalu” tulis Syaikh Salman Al Audah melalui akun resminya, @salman_alodah, Senin pagi (22/7/2013), pukul 7:45 waktu Saudi.

Kabar tersebut juga dikuatkan dengan sejumlah foto Syaikh Al Arifi dan Muhsin Al Awaji yang diunggah Abdullah Salim, adik ipar Syaikh Muhasin Al Awaji, melalui akun twiternya. Dalam foto tersebut, beliau berdua tengah berada di dalam masjid dan tampak wajah Syaikh Al Arifi dihiasi dengan senyuman. Sejumlah masyaikh berkerumun disekitar beliau dan tampak mereka saling berjabat tangan.

Dari komentar-komentar yang berada dibawah foto-foto tersebut, tampaknya beliau berdua seusai melaksanakan shalat Subuh.

Sebagaimana diberitakan, aparat keamanan Saudi menangkap syaikh Al Arifi dan Al Awaji beberapa hari lalu tanpa penjelasan alasan penangkapan kedua da’I Saudi tersebut.

Dua hari sebelumnya, syaikh Muhammad Al Arifi mengabarkan bahwa dirinya tidak dibolehkan bepergian oleh pihak keamanan Saudi. Beliau menyampaikan permintaan maaf, karena tidak bisa menjadi pemateri di sejumlah perkuliahan di Qatar. Pada waktu itu belum diketahui bahwa beliau ditangkap aparat keamanan.

Sementara itu, syaikh Muhsin Al Awaji, sebelum ditangkap, beliau diminta untuk tidak tampil di sejumlah acara televisi dan berkomentar di surat kabar. Terakhir beliau muncul di layar kaca dalam sebuah acara dialog di statiun TV ‘al hiwar’. Dalam kesempatan itu beliau berbicara tentang kondisi di Mesir.


Hingga saat ini, belum ada keterangan dari pemerintah Saudi terkait penangkapan dua ulama tersebut. [hunef/kiblat.net]

Sumber :

Ulama Syiah Pecah Menyikapi Suriah


KIBLAT.NET, Najaf – Ulama senior Syiah ayatullah di Qom, Iran, telah mengeluarkan fatwa mendesak pengikutnya untuk bergabung dengan pertempuran di Suriah, sementara banyak ulama Syiah Irak yang berbasis di Najaf tetap menentang keterlibatan warga Syiah dalam pertempuran.

Komandan milisi Syiah yang bertanggung jawab untuk merekrut milisi di Irak seperti dilansir asharq alawshat,mengatakan jumlah relawan telah meningkat pesat sejak diterbitkannya fatwa tersebut, meskipun terjadi perpecahan di kalangan ulama.

Sementara pemerintah Iran dan beberapa ayatullah berbasis Qom antusias mendukung Assad, otoritas Syiah di Najaf, yang dipimpin oleh Ayatollah Ali Al-Sistani, menolak warga Syiah menjadi relawan ke Suriah terlibat dalam perang yang mereka lihat sebagai persoalan politik, bukan persoalan sektarian.

Meskipun posisi Sistani menolak, bagaimanapun, beberapa pihak Syiah dan milisi di Irak, yang setia kepada pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, telah mengirim anggotanya untuk berperang di Suriah.

Seorang ulama senior Syiah, yang menjalankan  salah satu dari empat kantor otoritas keagamaan berwenang di Najaf, mengatakan bahwa mereka yang pergi berperang di Suriah yang melawan kehendak otoritas ulama.

Menurut seorang ulama yang dekat dengan penguasa Najaf, “perselisihan antara Qom dan Najaf tidak baru, tapi perselisihan ini mempengaruhi sikap Irak pada masalah Suriah.”

Dia menambahkan bahwa “Kedua otoritas ulama telah bersatu, kita akan melihat pemerintah Irak mendukung rezim Suriah.” Pemerintah Irak mengumumkan kenetralannya pada konflik, tetapi derasnya milisi Syiah Irak ke Suriah telah membahayakan posisi tersebut.

Ulama senior dan politisi Syiah mengatakan bahwa terhadap Suriah, bagi Khamenei dan para pendukungnya di Irak dan Iran, merupakan bagian penting dari dominasi “Bulan sabit Syiah” yang berlangsung dari Teheran ke Beirut, melalui Baghdad dan Damaskus.

Dalam menanggapi pertanyaan tentang legitimasi pertempuran di Suriah, Ayatullah Al-Kazim Ha’eri, yang tinggal di Teheran, mengklaim pertempuran ini adalah kewajiban untuk membela Islam.

Menurut sumber milisi, sekitar 50 Syiah Irak pergi ke Suriah setiap minggu untuk berperang bersama pasukan Assad dan membela kuil Syiah, seperti Kuil Zainab di pinggiran Damaskus.

Ali, mantan anggota Tentara Al-Mahdi termasuk yang dipimpin Moqtada Al-Sadr, mengatakan ia telah mengemas tas untuk pergi ke Suriah: “Saya mengikuti perintah otoritas saya. Pemimpin spiritual saya mengatakan pertempuran di Suriah adalah kewajiban agama, dan aku tidak peduli apa yang orang lain katakan dan tidak ada yang memiliki hak untuk menghentikan saya. Aku berjuang untuk membela agama saya dan putri imam saya, “ungkapnya merujuk kepada Kuil Zainab.

Para ulama di Najaf, yang disebutkan di atas, mengatakan Iran menggunakan perlindungan kuil Syiah sebagai alasan untuk mendorong warga Syiah untuk berperang.

Sejak jatuhnya rezim Saddam, pengaruh Iran di Irak telah meningkat dan mencoba untuk mendapatkan pijakan di Najaf pada khususnya. Ulama senior Syiah Iran telah membuka kantor di Najaf serta organisasi non-pemerintah, badan amal dan pusat kebudayaan, semua didanai oleh otoritas Syiah Iran atau kedutaan Iran di Baghdad, menurut pejabat setempat.

Seorang ulama yang bekerja di bawah Khamenei, di bawah kondisi anonimitas, mengatakan: “Kami memiliki proyek besar yang menargetkan penyebaran prinsip velayat-e faqih (ahli hukum perwalian), dan remaja adalah target kami. Kami tidak bertujuan untuk mendirikan negara Islam di Irak, tapi kami ingin setidaknya membentuk badan revolusioner yang akan siap bertarung dalam membela proyek Syiah. ”

Haydar Al-Gharabi, seorang guru di Hauza (sekolah agama) Najaf yang dekat dengan otoritas keagamaan Syiah di kota, mengatakan kepada Asharq Al Awsat: “Perbedaan pendapat antara Najaf dan Qom itu suatu hal yang alami, dan itu bukan hanya perselisihan antara dua pihak berwenang di Irak dan Iran saat media suka menggambarkan hal itu, tampak seperti perselisihan yang sebenarnya antara dua pihak yang berlawanan. Ini adalah ketidaksepakatan yang ada di dalam Najaf, dan di dalam otoritas Qom. ”

Gharabi menambahkan bahwa ada beberapa ulama di Qom yang setuju dengan rekan-rekan mereka di Najaf, dan beberapa di Najaf yang setuju dengan rekan-rekan mereka di Qom. (qathrunnada/kiblat.net)

Sumber :

Alhamdulillah, mujahidin tewaskan panglima pasukan rezim Suriah di Aleppo


ALEPPO (Arrahmah.com) – Panglima operasi militer rezim Nushairiyah Suriah di kota Khan al-Assal, propinsi Aleppo tewas di tangan mujahidin Suriah pada pertempuran pada Ahad (21/7/2013), Ugarit News melaporkan.
Brigader Jendral Hassan Yousef Hassan, panglima operasi militer rezim Nushairiyah Suriah di kota Khan al-Assal tewas saat melarikan diri dalam sebuah tank bersama lima orang anak buahnya. Mujahidin Islam dan mujahidin FSA menyergapnya dalam penyerbuan ke kota Khan al-Assal.
Jasad perwira tinggi rezim Nushairiyah Suriah yang berlumuran darah ribuan warga sipil muslim itu kini berada di tangan mujahidin.
komandan suriah tewas
Komandan mujahidin Brigade Nuruddin az-Zanki FSA menyebutkan selain menewaskan Brigjend Hassan, mujahidin FSA juga berhasil merampas dua buah tank t 72 dan beberapa meriam Fozdeka dari tentara Nushairiyah di kota Khan al-Assal.
Kepada para wartawan, mujahidin menunjukkan kartu identitas perwira tinggi rezim itu dan beberapa anak buahnya yang tewas di tangan mujahidin. Segala puji bagi Allah semata.
Mujahidin Islam dan mujahidin FSA dalam beberapa pekan terakhir melakukan operasi gabungan bersandi “wal-mughirati shubha” atau “demi kuda-kuda perang yang menyerbu di waktu pagi”.
(muhibalmajdi/arrahmah.com)
Sumber :
http://www.arrahmah.com/news/2013/07/22/alhamdulillah-mujahidin-tewaskan-panglima-pasukan-rezim-suriah-di-aleppo.html